Beberapa hari belakangan, Timeline kita dipenuhi sebuah Film Garapan Ernest Prakasa yaitu “Milly dan Mamet”. Saya bukan mau me-resensi film ini, karena saya bukanlah pengamat film. Saya hanyalah penikmat film yang biasa-biasa saja.

Namun saya hanya ingin mengambil 1 pelajaran dari film tersebut.


Oh ya, sebelumnya ::full_name:: sudah menonton? Kalau belum menonton berikut Sinopsis Film ini :

Mamet adalah sosok pria yang punya bakat di bidang memasak tapi malah kerja di pabrik milik mertuanya. Ia sebenarnya terpaksa bekerja di situ karena menjadi tumpuan keluarga karena Milly bekerja sebagai bankir untuk mengurus anak.

Mamet lalu bertemu dengan temannya semasa kuliah, Alexandra. Alexadra ini mengenang khayalan masa lalu mereka untuk punya restoran dan bilang sudah dapat investor. Ia lalu meminta Mamet untuk menjadi chef sedangkan urusan lainnya dia yang menanggung.

Mamet galau. Dia ingin menerima tawaran kerja sama dengan Alexandra tapi hubungannya dengan mertua sedang buruk. Tapi di satu sisi Mamet ingin mengejar mimpi.

Jadi apa pelajarannya?

Ya, salah satu pelajaran dalam film ini adalah “Antara Mimpi, Cita-Cita dan Harapan”.

Kalimat ini selalu sering muncul di kehidupan kita. Ada orang bermimpi ingin sukses, ada juga yang bercita-cita ingin sukses, dan ada yang berharap untuk sukses.

Ketiganya berbeda. Orang yang bermimpi cenderung tidak melakukan apa-apa. Andaikan melakukan sesuatu pun dia hanya lakukan tanpa target serta tanpa rencana. Sedang orang yang berharap, dia hanya melakukan apa yang dia bisa sekadarnya. Padahal ia tahu ia bisa lakukan lebih, tapi sebelum “berperang” ia sudah bilang “Ah, kemampuanku hanya segini saja, tidak bisa lebih”

Itulah bedanya dengan orang yang bercita-cita sukses. Ia kejar sedemikian rupa dengan target tinggi dan terukur serta dia rencanakan dengan baik. Ia atur jadwal, konsep dan timeline. Mengenai hasil ia pasrahkan di akhir. Ia hanya fokus proses dan proses.

Inilah yang sedang kami, Bayuangga lakukan. Kami rencanakan dengan terukur hanya demi satu tujuan, UKM-UMKM Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Kendala klasik UKM-UMKM kita adalah, “sulitnya membuat pasar digital, yang bisa terpercaya”. Kebanyakan dari mereka hanya mengandalkan sosial media di mana seperti kita tahu, trafiknya tidak pernah bisa diukur dan dikendalikan.

Terlebih kompleksnya proses produksi juga menghandle system marketing secara konvensional. Bahkan tak jarang juga melakukan pengiriman mandiri atau via COD.

Di sinilah kami, Bayuangga hadir.

Memotong rantai proses tersebut, membuat UKM-UMKM semakin mudah dan fokus terhadap proses produksi dan mempersilakan para pembeli untuk memberikan kepercayaan kepada kami hingga produk UKM tersebut sampai di tangannya dengan baik dan tepat.

Jadi di kesempatan yang baik ini, jangan tunggu lagi, yuk langsung aja cari barang yang kamu inginkan. Dengan membeli produk UKM-UMKM ini, sama artinya anda membantu mewujudkan cita-cita para UKM-UMKM yang akan tumbuh dan berkembang bersama kami.

Author Yudi Susanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *