Budaya itu dipengaruhi oleh perilaku dan keseharian. Kesadaran untuk melestarikan dan menjaga keaslian budaya lokal masih dipandang sebelah mata untuk masa kini. Generasi muda tampak mengesampingkan budaya lokal tersebut. Padahal potensi lokal Indonesia begitu kaya karena iklim industri kreatif tanah air selalu maju.

Masih banyak generasi muda yang saat ini sering disebut generasi “Millenial” enggan untuk mengenakan batik. Batik lebih sering hanya dipakai dalam acara resmi, misalnya pernikahan dan lain-lain. Padahal, segala hal tentang batik mulai dari kaos, seragam, tas bahkan pernak-perniknya sudah bertebaran. Banyak UKM-UKM Indonesia yang memproduksi hal tersebut.

Dibalik produk batik justru tersimpan nilai sejarah dan nilai ekonomi yang bermanfaat bagi banyak orang. Akhirnya, batik Indonesia pun mendapat pengakuan dari United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO) sebagai salah satu warisan budaya dunia (global heritage).

Batik bukan sekedar karya seni atau produk budaya. Batik mampu mereseprentasikan  watak dan karakter suatu masyarakat, terutama dimana produk batik ini dihasilkan. Keunikan dan keanekaragaman dari segi motif, estetika, caramenyatu hingga menghasilkan kekayaan seni yang tak ternilai harganya. Melalui sentuhan-sentuhan tangan yang terampil dan kreatif  didukung dengan cita rasa seni (artistik) serta tingkat kesabaran tinggi, maka batik Indonesia menjelma menjadi karya bermutu tinggi.

Apalagi kalau kita tahu proses pembuatan batik. Di situ menggambarkan proses kreatif yang panjang. Bahkan jika berkenan, pembatik atau pembuat batik akan menceritakan kepada kita filosofi yang terkandung pada setiap motif batik yang dibuatnya.

Khusus untuk anda, ada Voucher Diskon kali ini sampai dengan Akhir Bulan April 2019. Khusus produk Tas Tangan Batik Produksi UKM Batik Kota Probolinggo – Jawa Timur. Masukkan Kode Voucer tasbatik ketika anda melakukan Checkout Pembelian.

“Cintailah batik untuk mencintai Indonesia, karena jika bukan kita siapa lagi yang akan mencintai Indonesia”

Author Yudi Susanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *